Makalah Bahasa Indonesia

 

PENYINGKATAN KATA DAN FRASA DALAM BERBAHASA

SEBAGAI MANIFESTASI BAHASA PROKEM DI KALANGAN REMAJA

 

MAKALAH

Oleh

Endang Wahyuningsi

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan karunia terbesar dalam hidup manusia. Hal ini disebabkan karena hanya manusialah yang memiliki dan mampu berbahasa. Manusia sejak lahir telah dilengkapi oleh sebuah alat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Pendapat ini didukung oleh Chomsky (dalam Chaer, 2003:108) yang menyatakan bahwa manusia telah dilengkapi dengan sebuah alat yang disebut Language Acquisition Device (LAD).

Lebih lanjut, Chomsky (dalam Chaer, 2003:108) menyatakan bahwa Language Acquisition Device (LAD) ini berkaitan dengan penerimaan anak terhadap ucapan-ucapan yang didengarnya di lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, lingkungan sangat berperan aktif dalam pemerolehan bahasa baik oleh anak-anak maupun kalangan remaja. Dengan demikian, tidak heran kalau di kota-kota besar, seperti Jakarta, kalangan remaja sering menggunakan bahasa yang disingkat-singkat baik kata maupun frasa. Misalnya, kata ‘ciyus’ berasal dari kata serius; singkatan ‘bohay’ berasal dari kata ‘body aduhai’.

Variasi bahasa yang diciptakan oleh kaum remaja menuntut para orang tua lebih memperhatikan bahasa yang digunakan oleh anak-anaknya. Sebagaimana kita tahu bahwa bahasa remaja selalu berubah atau dinamis. Hal tersebut dikarenakan bahasa memiliki sifat yang dinamis. Dinamis maksudnya, selalu berubah sesuai dengan zaman manusia pengguna bahasa itu hidup. Perbedaan bahasa ini dapat dilihat dari penggunaan kata dan frasa dalam berbahasa.

Penggunaan kata dan frasa dalam berbahasa oleh kaum remaja semakin miris terasa. Hal tersebut dikarenakan banyaknya penyingkatan kata dan frasa yang digunakan oleh kaum remaja yang membawa dampak tersendiri bagi perkembangan bahasa Indonesia. Penyingkatan kata dan frasa yang sembrautan ini merupakan efek dari manifestasi bahasa prokem.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini diajukan dalam bentuk pertanyaan, yaitu sebagai berikut.

  1. Apa itu bahasa Prokem?
  2. Bagaimanakah proses pembentukan bahasa prokem?
  3. Bagaimanakah bentuk analisis bahasa prokem?
  4. Apa upaya meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem?

 C.    Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini memiliki empat tujuan, yaitu sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan tentang bahasa prokem.
  2. Mendeskripsikan tentang proses pmbentukan bahasa prokem.
  3. Mendeskripsikan bentuk analisis bahasa prokem.
  4. Mendeskripsikan upaya meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem.

D.    Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan bermanfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis, makalah ini didasarkan pada pemaparan tentang bahasa prokem dan makalah ini juga diharapkan dapat memperkaya khasanah pengetahuan tentang penyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa. Selanjutnya, secara praktis, makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap para remaja supaya lebih jeli dalam memilih kata dan frasa yang akan digunakan dalam berbahasa. Di samping itu, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi pembaca dan penulis selanjutnya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Makalah ini akan membahas tentang (1) bahasa prokem, (2) proses pembentukan bahasa prokem, (3) analisis bahasa prokem, (4) upaya meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem. Penjelasan masing-masing sebagai berikut.

A.    Bahasa Prokem

Sumarsono (2008:153) menjelaskan bahwa bahasa prokem merupakan salah satu jenis tutur yang khas dan muncul di Jakarta. Pencipta asli dari bahasa prokem adalah kaum pelancong, pencopet, bandit, dan sebangsanya. Di Jakarta mereka ini disebut kaum preman. Kata prokem itu sendiri berasal dari kata preman dengan rumus berikut.

  1. Setiap kata diambil 3 fonem (gugus konsanan dianggap satu) pertama: preman  menjadi prem.
  2. Bentuk itu disisipi –ok-, di belakang fonem (atau gugus fonem) yang pertama, yang menjadi prokem atau prokem.

Selanjutnya, bahasa prokem adalah bahasa yang digunakan untuk mencari dan menunjukkan identitas diri; bahasa yang dapat merahasiakan pembicaraan mereka dari kelompok yang lain. Ada pula yang menyatakan bahasa prokem itu adalah bahasa yang diolah kembali agar pembicaraaan mereka ini tidak dipahami orang tua ataupun guru-guru yang sering melarang mereka sebelum sempat melakukan sesuatu (Sallyanti, 2003:1).

Menurut Wikipedia, bahasa prokem atau bahasa gaul adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Dalam perkembangannya sekarang, bahasa prokem atau bahasa gaul tersebut terus bertambah banyak dengan berbagai variasinya. Kata-kata tersebut bisa dari kata-kata daerah yang dipelesetkan maknanya, kata-kata yang dibunyikan tidak sempurna (“dicadelkan”), singkatan-singkatan ataupun dengan mengubah susunan huruf (vokal dan konsonan) sehingga terdengar bunyi baru yang unik dan lucu (http://arsyad-rivadi.blogspot.com)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa prokem merupakan sejenis ragam bahasa yang khas yang awalnya berkembang di Jakarta yang digunakan oleh pelancong, bandit, dan sebangsanya. Bahasa prokem itu sendiri berasal dari kata preman. Selanjutnya, seiring waktu istilah bahasa prokem berubah menjadi bahasa gaul.

Bahasa prokem atau bahasa gaul pada saat ini tidak hanya digunakan oleh para pelancong di kota besar, seperti Jakarta, namun juga di kota-kota kecil, seperti di kota Padang. Hal ini dapat kita lihat bahwa remaja bahkan anak-anak, dan orang tua pun menggunakan bahasa gaul dalam kegiatan berbahasa. Hal tersebut dapat diketahui dari fakta di lapangan. Makin maraknya penggunaan bahasa gaul tersebut tidak terlepas dari perkembangan media komunikasi, seperti televisi, radio, dan jejaring sosial.

B.  Proses Pembentukan Bahasa Prokem

Menurut Sumarsono (2003:154-160) proses pembentukan bahasa prokem adalah sebagai berikut.

Pertama, setiap kata diambil 3 fonem (gugus konsanan dianggap satu) pertama: bapak menjadi bap, kemudian bentuk ini disisipi –ok-, dibelakang fonem (atau gugus fonem) yang pertama, menjadi b-ok-ap atau bokap. Kedua, menghilangkan vokal terakhir saja, kemudian disisipi –ok– dibelakang tiga fonem pertama. Misalnya, kata begitu menjadi begokit. Penghilangan satu bunyi ini dalam pelajaran bahasa Indonesia disebut dengan apokop. Ketiga, metatesis pada tingkat suku kata, contohnya besok menjadi sobek, piring menjadi riping. Keempat, kosa kata khusus yang rumusannya tidak ada, contoh amsyong (celaka, hancur), asycy (asik, nikmat, menyenangkan). Kelima, melalui singkatan dan akronim. Makalah ini lebih lanjut akan membahas bahasa prokem atau bahasa gaul ditinjau dari proses peyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa.

Menurut Kridalaksana (1996:162), singkatan merupakan salah satu hasil proses pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf, seperti:

UNP (Universitas Negeri Padang),

DKI (Daerah Khusus Ibukota), dan

KKN (Kuliah Kerja Nyata);

Maupun yang tidak dieja huruf demi huruf, seperti:

dll (dan lain-lain),

dng (dengan),

dst (dan seterusnya).

Adapun jenis-jensi singkatan, yaitu sebagai berikut.

  1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan nada titik, misalnya: Prof. Dr. Agustina, M.Hum.
  2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).
  3. Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Akan tetapi, singkatan umum yang terdiri hanya dari dua huruf diberi tanda titik setelah masing-masing huruf. Misalnya, s.d. (sampai dengan).
  4. Lambang kimia, singkatan satuan ukur, takaran, timbangan, dan mata uang asing tidak diikuti tanda titik, misalnya: kg (kilogram).

Proses-proses penyingkatan kata dan frasa menurut (Kridalaksana, 1996:165-169), yaitu sebagai berikut.

  1. Pengekalan huruf pertama tiap komponen, misalnya:

A= agama

B= barat, bin, binti

F= Fiat, Fokker

G= gunung, gusti

H= haji, hijrah

AA= Asia Afrika, Ayah Angkat

GWR= Gerakan Wisata Remaja

PAPFIAS= Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat

Dll= dan lain-lain.

  1. Pengekalan huruf pertama dengan pelesapan konjungsi, preposisi, reduplikasi dan preposisi, artikulasi, dan kata, misalnya:

BASUKI= Badan Asuhan Sekolah dan Usaha Kebudayaan Indonesia

BDB= Bebas dari Bea

BHTI= Biro Hak Cipta di Indonesia

DGI= Dewan Gereja-Gereja di Indonesia

MAWI= Majelis Agung para Wali Gereja Indonesia.

Catatan: unsur yang dimiringkan dilesapkan.

  1. Pengekalan huruf pertama dengan bilangan, bila berulang, misalnya:

D3= Dinas Dermawan Darah

4K= Kecerdasan, Kerajinan, Kesetiaan, dan Kesehatan

BBN-A3= Bea Balik Nama Alat Angkutan Air

P3AB= Proyek Percepatan Pengadaan Air Bersih

  1.  Pengekalan huruf pertama dari kata, misalnya:

Aj= ajudan

As= asisten

Ay= ayat

Ka= karet, Kalimantan

  1. Pengekalan 3 huruf pertama dari sebuah kata, misalnya:

Acc= accord

Ant= antara

Obl= obligasi

Okt= Oktober

  1. Pengekalan 4 huruf  pertama dari suatu kata, misalnya:

Purn= purnawirawan

Sekr= sekretaris

Sept= September

  1. Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir kata, misalnya:

BA= bintara

DI= divisi

Fa= Firma

Ir= Insinyur

  1. Pengekalan huruf pertama dan huruf ketiga, misalnya:

Bb= bijblad

Gn= gunung

  1. Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari suku kata pertama dan huruf pertama dari suku kata kedua, misalnya:

Kpt= kapten

Ltn= letnan

Kel= keluarga

Lab= laboratorium

  1. Pengekalan huruf pertama kata pertama dan huruf pertama kata kedua dari gabungan kata, misalnya:

a.d.= antedium

VW= Volkswagen

  1. Pengekalan huruf pertama dan diftong terakhir dari kata, misalnya sei= sungai.
  2. Pengekalan dua huruf pertama dari kata pertama dan huruf pertama kata kedua dalam suatu gabungan kata, misalnya: Swt= swatantra
  3. Pengekalan huruf pertama suku kata pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kata kedua dari suatu kata, misalnya:

Bdg= bandung

dgn= dengan

  1. Pengekalan huruf pertama dari tiap suku kata, misalnya:

hlm= halaman

ttg= tertanggal

  1. Pengekalan huruf pertama dan huruf keempat dari suatu kata, misalnya DO= depot.
  2. Pengekalan huruf yang tidak beraturan, misalnya:

Ops= operasi

KMD= komandan

Hat= kejahatan

Daft= didaftarkan.

C.  Analisis Bahasa Prokem

Analisis bahasa prokem yang digunakan oleh remaja pada makalah ini berdasarkan pantauan dan realita yang ditemukan oleh penulis dalam kehidupan sehari-hari. Berikut uraian lebih lanjut mengenai bahasa prokem atau bahasa gaul yang digunakan oleh kalangan remaja yang berhasil penulis kumpulkan.

  1. Analisis Berdasarkan Bentuk Dasar Kata

Analisis berdasarkan bentuk dasar kata dapat kita lihat pada contoh-contoh berikut ini.

 

Gw benci banget ama loe!

Ciyus?

Contoh di atas merupakan salah satu penyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa. Gw berasal dari gue yang merupakan bahasa betawi, sedangkan benci merupakan singkatan dari frasa benar-benar cinta dan ama berasal dari kata sama, loe berasal dari bahasa betawi, serta ciyus berasal dari kata serius. Di sebuah kos-kosan, seorang mahasiswi mengucapkan kata dan frasa yang disingkat, namun dipahami oleh anggota atau genknya, misalnya kata kuak dan kusal. Kuak yang merupakan penyingkatan dari kata kurang akal, sedangkan kusal merupakan penyingkatan dari kata kurang salai. Singkatan lain misalnya, ababil (ABG labil), brownies (brondong manis), barbuk (barang bukti), CDMA (capek dech malas ah), 3G (gagah, ganteng, gaul), jadul (jaman dulu), dan lain seagainya.

 

  1. Analisi Berdasarkan Media Komunikasi

Penyingkatan kata dan frasa tidak hanya dilakukan dalam berkomunikasi langsung, namun juga dalam komunikasi tidak langung. Misalnya, melalui handphone, seseorang bisa mengirimkan pesan kepada sahabatnya dengan menggunakan singkatan kata dan frasa, seperti mat mlm, cpt, GPL. Kata mat berasal dari kata selamat, sedangkan kata mlm berasal dari kata malam, cpt berasal dari kata cepat, dan singkatan GPL berasal dari frasa nggak pake lama. Singkatan lain yang digunakan dalam pesan yang dikirim melalui handphone, misalnya macama (sama-sama), prg (pergi), tw (tau), udh (sudah), mkn (makan), ge pain (lagi ngapain), mikum (assalamu’alaikum), boong (bohong), dan lain sebagainya. Dengan demikian, hampir semua kata yang digunakan dalam pesan yang dikirim melalui media handphone menggunakan penyingkatan.

  1. Analisis Berdasarkan Asal Kata

Penyingkatan kata dan frasa tidak hanya dari bahasa Indonesia, tetapi juga berasal dari bahasa lain (bahasa Inggris). Misalnya, OMG (Oh, My God), BTW (By The Way), TMA (Take My Advice). Kata oh, my god berarti oh tuhan, sedangkan kata by the way memiliki arti ngomong-ngomong dan kata take my advice memiliki arti ambil nasihat saya. Singkatan kata atau frasa lain yang berasal dari bahasa Inggris, misalnya TBYB (Try Before You Buy) yang berarti coba sebelum membeli, ASAP (As Soon As Possible) yang berarti sesegera mungkin, TIA (Thanks In Advance) yang berarti terima kasih sebelumnya, TFIT (Thanks For The Thought) yang berarti terima kasih pendapatnya, TYVM (Thanks You Very Much) yang berarti terima kasih banyak.

Penyingkatan kata dan frasa tidak hanya berasal dari bahasa Indonesia atau bahasa asing (bahasa Inggris) saja, tetapi juga berasal dari gabungan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Misalnya, sorulaz, sortel, dan bohay. Kata sorulaz merupakan gabungan dari kata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang membentuk frasa baru, yaitu sorry baru balas, sedangkan kata sortel merupakan gabungan kata bahasa Ingris dan bahasa Indonesia yang membentuk frasa baru, yaitu sorry telat, dan kata bohay merupakan gabungan dari kata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yaitu body aduhay. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyingkatan kata dan frasa tidak hanya berasal dari bahasa Indonesia atau bahasa asing (Inggris) saja, akan tetapi juga merupakan gabungan dari kedua kata atau frasa dari bahasa tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan ada tiga dasar penganalisisan bahasa prokem atau bahasa gaul. Pertama, analisis berdasarkan bentuk dasar kata. Kedua, analisi berdasarkan media komunikasi. Ketiga, analisis berdasarkan asal kata. Ketiga penganalisisan ini dikaitkan dengan cara penyingkatan yang telah diutarakan oleh Kridalaksana. Misalnya, (1) 3G (Gagah Ganteng, Gaul) merupakan salah satu contoh proses penyingkatan kata yang ke 3, yaitu pengekalan huruf pertama dengan bilangan, bila berulang; (2) ASAP (As Soon As Possible) merupakan salah satu contoh proses penyingkatan kata yang ke-1, yaitu pengekalan huruf pertama tiap komponen. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa penyingkatan kata dan frasa dalam bahasa prokem masih mengikuti proses yang telah dikemukan oleh ahli bahasa tersebut.

D.  Upaya Meminimalisasikan Penggunaan Bahasa Prokem

Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem adalah dengan meningkatkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia. Upaya-upaya tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para penerus bangsa, bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus diutamakan penggunaannya. Dengan demikian, mereka lebih mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar daripada bahasa prokem atau bahasa gaul.
  2. Menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan penggunaan bahasa Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui, bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu yang dapat kita gunakan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan menanamkan semangat persatuan dan kesatuan, masyarakat Indonesia akan lebih mengutamakan bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa prokem atau bahasa gaul.
  3. Meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi. Para siswa dapat diberikan tugas praktik berbahasa Indonesia dalam bentuk dialog dan monolog pada kegiatan bermain drama, diskusi kelompok, penulisan artikel dan makalah dan juga dalam bentuk penulisan sastra seperti cerpen dan puisi.


BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan empat hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Bahasa prokem merupakan sejenis ragam bahasa yang khas yang awalnya berkembang di Jakarta yang digunakan oleh pelancong, bandit, dan sebangsanya. Bahasa prokem itu sendiri berasal dari kata preman. Selanjutnya, seiring waktu istilah bahasa prokem berubah menjadi bahasa gaul.
  2. Menurut Sumarsono (2003:154-160) proses pembentukan bahasa prokem ada lima, yaitu (1) setiap kata diambil 3 fonem (gugus konsanan dianggap satu) pertama, kemudian bentuk ini disisipi –ok-, dibelakang fonem (atau gugus fonem) yang pertama; (2) menghilangkan vokal terakhir saja, kemudian disisipi –ok– dibelakang tiga fonem pertama; (3) metatesis pada tingkat suku kata; (4) kosa kata khusus yang rumusannya tidak ada; (5) melalui singkatan dan akronim.
  3. Analisis bahasa prokem didasarkan pada tiga hal, (1) bentuk kata dasar; (2) media komunikas; (3) asal kata. Kemudian, dikaitkan dengan proses pembentukan singkatan yang telah diutarakan oleh Kridalaksana, maka dapat disimpulkan bahwa penyingkatan dalam bahasa prokem masih mengikuti prosedur penulisan singatan yang ada.
  4. Upaya untuk meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem adalah (1) menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para penerus bangsa, bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus diutamakan penggunaannya; (2) menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia; (3) meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi.

 

B.Saran

Dari uraian yang telah dipaparkan, kita mengetahui penyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa merupakan menifestasi bahasa prokem di kalangan remaja. Penting bagi kita untuk mengetahui bahasa prokem dan efek yang ditimbulkan dari bahasa prokem terhadap keberlangsungan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya pembaca atau generasi bangsa senantiasa menggunakan bahasa Indonesia, walau tidak dipungkiri diperbolehkan menggunakan bahasa prokem. Namun, menurut hemat penulis, sebaiknya penggunaan bahasa prokem atau bahasa gaul hendaknya diminimalisasikan.


DAFTAR RUJUKAN

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta:Rineka Cipta.

http://assyad-riyadi.blogspot.com/2012/10/bahasa-indonesia-vs-bahasa-prokem. diunduh 10 April 2013.

Kridalaksana, Harimurti. 1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta:Gramedia.

 

Salliyanti. 2003. “Bahasa Prokem di Kalangan Remaja” (Jurnal). Universitas Sumatera Utara:Fakultas sastra.

Sumarsono. 2003. Sosiolinguistik. Yogyakarta:Sabda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s