BIAS GENRE DALAM BERITA KRIMINAL PADANG EKSPRES: Kajian Feminisme dalam Prespektif Analisis Wacana Kritis oleh Endang Wahyuningsi Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Ahlussunnah Bukittinggi email: endang_wahyuningsi@ymail.com artikel jurnal ini telah diterbitkan pada Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Menara Ilmu Vol. X. Jilid 2 No. 63 Januari 2016 ISSN 1693-2617

Abstract

The purpose of this researched was to (1) describe the actor position and (2) describe the reader position in news text harian Padang Ekspres which the title “Diomeli, Suami Bunuh Istri” and “Bunuh Istri karena Dicaci Maki.” This research is qualitative research that had description method. The object in the research is criminal news which to contain at harian Padang Ekspres at 30 March 2013 and 17 May 2013. The data election based on same news thema is murder case. This data collecting technical is documentation. The results of this research showed two things. First, actor position in two criminal news at harian Padang Ekspres that to be partial to the man which story subject or first figure in the news, whereas the women is story object or viktim in the news. Second, reader position in two criminal news at harian Padang Ekspres is the man because reader position as story subject and following to plot which to say from story subject.

           

       Key words: to deviate genre, news criminal, feminism study

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan tentang posisi aktor dan (2) mendeskripsikan posisi pembaca dalam teks berita harian Padang Ekspres yang berjudul “Diomeli, Suami Bunuh Istri” dan “Bunuh Istri karena Dicaci Maki.” Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah berita kriminal yang dimuat pada harian Padang Ekspres pada tanggal 30 Maret 2013 dan 17 Mei 2013. Pemilihan data ini didasarkan pada kesamaan tema berita, yaitu kasus pembunuhan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Hasil penelitian ada dua: (1) posisi aktor dalam kedua teks berita kriminal pada harian Padang Ekspres tersebut, diketahui bahwa pihak laki-laki yang menjadi subjek penceritaan atau pelaku utama dalam cerita, sedangkan perempuan hanya sebagai objek penceritaan atau korban yang diceritakan, dan (2) posisi pembaca dalam kedua teks berita kriminal pada harian Padang Ekspres tersebut adalah sebagai laki-laki, hal ini dikarenakan pembaca diposisikan sebagai subjek penceritaan dan mengikuti alur peristiwa yang dikemukakan oleh subjek pencerita.

Kata Kunci: bias genre, berita kriminal, kajian feminisme

 

 

  1. Pendahuluan

Wacana merupakan bentuk penggunaan bahasa yang fungsional dalam kegiatan berkomunikasi. Dengan kata lain, wacana adalah tuturan yang digunakan oleh manusia dan digunakan dalam kegiatan berinteraksi antarsesama manusia. Dalam wacana dapat ditelusuri berbagai hal, misalnya, tata kalimat, frasa, dan kata. Wacana biasanya dimuat dalam media komunikasi.

Media komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang vital dalam era globalisasi saat ini. Setiap detik, manusia dihadapkan dengan berbagai informasi baik yang dimuat di media masa elektronik maupun media massa cetak. Namun, dari sekian banyak informasi yang diperoleh justru dapat saja diragukan kebenarannya. Wacana yang terdapat dalam media saat ini cenderung menampilkan suatu opini yang keliru dan mendeskriminasikan sutu pihak atau kelompok yang ada di dalam masyarakat.

Menurut Yusrizal (dalam Ermanto, 2009:205), salah satu media massa yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat adalah Surat Kabar Harian. Perkembangan media massa itu diawali oleh pers (dalam arti luas dimaknai sebagai media massa, sedang dalam arti sempit dimaknai sebagai persuratkabaran), kemudian diikuti oleh radio, televisi, film, dan internet. Di Indonesia, media massa mengalami perkembangan yang sangat cepat ketika runtuhnya Orde Baru dan memasuki masa reformasi. Media massa memiliki tugas penting dalam membentuk wacana di dalam masyarakat karena Surat Kabar Harian merupakan media yang memiliki nilai kedekatan yang lebih dengan masyarakat kelas sosial apapun.

Surat kabar termasuk ke dalam media masa cetak. Media massa cetak merupakan suatu wadah untuk menuangkan informasi oleh seorang wartawan atau penulis. Informasi yang dituangkan dapat berbentuk berita, artikel, atau opini penulis tentang fenomena kehidupan. Salah satu berita yang sering ditulis oleh wartawan adalah berita kriminalitas yang terjadi di lingkungan sekitar, baik itu pencurian, pembunuhan, bahkan pemerkosaan. Semua informasi tersebut dikemas dan disajikan dengan bahasa dan ciri khas masing-masing wartawan.

Permainan bahasa dan ciri khas penulis dalam menuangkan informasi berpengaruh terhadap berita yang diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, dalam membaca sebuah berita, seorang pembaca harus bersikap kritis. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan pemahaman mengenai analisis wacana kritis. Menurut Fairclough dan Wodak (dalam Eriyanto, 2009:7), analisis wacana kritis melihat hubungan antara wacana dengan pemakaian bahasa dalam tuturan dan tulisan sebagai bentuk dan praktik sosial. Maksudnya, wacana dilihat sebagai bentuk pemakaian bahasa yang dikaitkan dengan praktik sosial. Jadi, dalam memaknai sebuah berita yang disajikan oleh wartawan dibutuhkan sikap kritis dari pembaca, hal ini didasarkan pada sudut pandang yang berbeda dari seseorang mengenai suatu permasalahan atau kasus.

Salah satu kasus yang sering ditulis wartawan adalah mengenai feminisme dan genre. Misalnya, kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya yang dimuat pada harian Padang Ekspres, Sabtu, 30 Maret 2013. Dari kasus ini terlihat jelas bahwa perempuan selalu menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Hal ini sesuai dengan pendapat Fakih (2008:13), yang menyatakan salah satu bentuk dari bias genre atau ketidakadilan genre, yaitu kekerasan (violence). Lebih lanjut, Fakih (2008:13) menjelaskan bahwa:

kekerasan (violence) adalah serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber, salah satu kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu yang disebabkan oleh anggapan gender. Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender ini disebut gender-related violence. Pada dasarnya, kekesaran gender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada di dalam masyarakat. Bentuk-bentuk kekerasan gender, di antaranya: pemerkosaan terhadap perempuan, kekerasan dalam bentuk pelacuran (prostitution), dan kekerasan dalam bentuk pornografi.

 

Permasalahan mengenai feminisme dan genre tersebut melahirkan gerakan feminisme. Gerakan feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur yang tidak adil, menuju ke sistem yang adil bagi perempuan maupun laki-laki (Fakih, 2008:99-100). Lebih lanjut, Geofe (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2010:61) juga berpendapat bahwa feminisme merupakan kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak dan kepentingan perempuan. Seandainya perempuan sederajat dengan laki-laki, berarti mereka mempunyai hak untuk menentukan dirinya sendiri sebagaimana yang dimiliki oleh kaum laki-laki.

Pada kenyataannya, perempuan cenderung ditampilkan dalam teks sebagai pihak yang salah, marjinal dibandingkan dengan laki-laki. Ketidakadilan dan penggambaran yang buruk mengenai perempuan inilah yang menjadi sasaran utama dari tulisan Sara Mills (seorang ahli teori wacana). Lebih lanjut, Sara Mills (dalam Eriyanto, 2009:200) menyatakan bahwa dalam menganalisis sebuah wacana, beliau memakai analisis Althusser, yaitu menekankan pada bagaimana aktor ditampilkan di dalam teks. Posisi aktor di dalam teks dikaitkan dengan pensubjekan seseorang yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu siapa yang menjadi subjek penceritaan (penafsir) dan siapa yang menjadi objek penceritaan (yang ditafsirkan).

Selain mengenai posisi-posisi yang disebutkan di atas, Sara Mills (dalam Eriyanto, 2009:200) juga memusatkan perhatiannya pada bagaimana pembaca mengidentifikasi dan menempatkan dirinya dalam penceritaan. Posisi semacam ini akan menempatkan pembaca pada salah satu posisi dan mempengaruhi bagaimana teks tersebut dipahami dan bagaimana pula aktor sosial tersebut ditempatkan dan ditampilkan dalam teks ini sehingga membuat satu pihak menjadi legitimate dan pihak lain menjadi ilegitimate.

Berdasarkan uraian di atas, terlihat sangat menariknya penelitian mengenai feminisme dan genre yang dimuat dalam berita pada media massa cetak. Namun, pada penelitian ini hanya mengambil salah satu media massa cetak daerah, yaitu harian Padang Ekspres, hal ini didasarkan pada harian Padang Ekspres merupakan surat kabar ternama di Sumatera Barat, selain itu pemilihan surat kabar tergantung pada waktu dan kemampuan peneliti dalam memperoleh data penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripskan posisi aktor dalam teks dan mendeskripsikan posisi pembaca dalam teks berita harian Padang Ekspres yang berjudul “Diomeli, Suami Bunuh Istri” dan “Bunuh Istri karena Dicaci Maki” dengan menggunakan teori wacana Sara Mills.

 

  1. Metodologi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Hal ini sesuai dengan pendapat Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005:4) bahwa penelitian kualitatif adalah seperangkat prosedur penelitian yang menghasilkan data-data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Senada dengan pendapat di atas, Lofland (dalam Moleong, 2005:157) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, tindakan, dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Lebih lanjut, Semi (1993:23) menyatakan bahwa metode penelitian deskriptif adalah metode yang dilakukan dengan mendeskripsikan data-data tanpa mengartikannya dengan angka-angka, tetapi mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antara konsep yang sedang dikaji secara empiris.

Objek dalam penelitian ini adalah berita kriminal yang dimuat dalam harian Padang Ekspres. Data dalam penelitian ini ada dua tulisan dengan judul, yaitu (1) Diomeli, Suami Bunuh Istri yang terbit pada tanggal 30 Maret 2013 dan (2) Bunuh Istri karena Dicaci Maki yang terbit pada tanggal 17 Mei 2013. Pemilihan data ini didasarkan pada kesamaan tema berita, yaitu kasus pembunuhan. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dilengkapi dengan lembaran pencatatan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi.

Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini ada lima, yaitu berikut ini. Pertama, membaca objek yang telah terkumpul secara keseluruhan. Kedua, mencatat kutipan-kutipan sesuai dengan topik yang dibahas. Ketiga, mengelompokkan masing-masing kutipan sesuai dengan tujuan penulisan. Keempat, melakukan pembahasan mengenai posisi aktor di dalam teks dan posisi pembaca di dalam teks dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Sara Mills. Kelima, merumuskan simpulan.

 

  1. Pembahasan
  2. Posisi Aktor dalam Teks Berita

Posisi aktor dalam teks berita ada dua, yaitu sebagai tokoh pencerita (penafsir) dan tokoh yang diceritakan (ditafsirkan). Adapun posisi aktor di dalam teks berita dalam penelitian ini akan dibahas satu persatu, yaitu berikut ini.

  1. Berita Pertama

Berita yang dimuat pada harian Padang Ekspres Sabtu, 30 Maret 2013 yang berjudul Diomeli, Suami Bunuh Istri diceritakan Dodi Candra (35) seorang suami yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual parfum di rumahnya tega membunuh istrinya, Leni Marlina (40). Pembunuhan dilakukan dengan cara menusuk tubuh istrinya pada bagian dada, leher, punggung, dan tangan. Peristiwa pembunuhan terjadi pada Kamis, 28 Maret 2013 di rumah korban RT IX Kelurahan Balai-Balai, Kecamatan Padang Panjang Barat, sekitar pukul 21.30.

Menurut Dodi, cerita berawal ketika anak sulungnnya meminta uang kepadanya. Namun, karena dia tidak memiliki uang, maka dia meminta uang kepada istrinya. Akan tetapi, istrinya tidak memberi uang, malahan marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar. Oleh karena itu, Dodi menjadi emosi, sehingga terjadi pertengkaran dan berujung pembunuhan.

Dalam berita ini terlihat bahwa posisi perempuan (Leni) hanya sebagai objek atau seseorang yang diceritakan dan pelaku Dodi sebagai subjek (pencerita). Seluruh peristiwa sebelum dan sampai proses terbunuhnya Leni diketahui oleh wartawan dari mulut Dodi. Dengan demikian, Dodi bertindak sebagai tokoh pencerita dalam teks berita tersebut. Hal ini didasarkan pada pembaca mengetahui peristiwa pembunuhan Leni dari pemaparan yang disampaikan oleh Dodi.

Leni sebagai korban tidak bisa menampilkan atau menghadirkan dirinya sendiri dalam teks. Hal tersebut dikarenakan Leni telah meninggal dunia. Akibatnya, posisi Leni digantikan oleh Dodi. Semua pendapat yang ditulis di dalam berita semuanya berdasarkan sudut pandang Dodi. Hal tersebut mengakibatkan Dodi sebagai aktor utama dan subjek satu-satunya dalam teks berita tersebut. Walaupun, ada informasi dari warga sekitar yang mendengar mereka bertengkar, tetapi kembali pada konsep awalnya bahwa Dodi sebagai pelakulah yang lebih mengetahui kronologis pembunuhan yang dia lakukan tersebut.

Sebagai Subjek dalam teks berita, Dodi mendapat posisi yang menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari judul berita Diomeli, Suami bunuh Istri. Berdasarkan judulnya tergambar jelas, bahwa Dodi melakukan pembunuhan karena terbawa emosi setelah mendengar omelan dari istrinya. Dalam posisi ini, Leni sebagai objek penceritaan, secara tidak langsung tergambar sebagai seorang perempuan yang tidak sopan karena menggunakan kata-kata kasar yang membuat suaminya emosi. Berdasarkan hal tersebut, posisi Leni semakin tersudutkan, dengan kata lain, dia dibunuh karena tutur katanya sendiri. Sebenarnya, Leni mengeluarkan kata-kata kasar pasti ada sebabnya, misalnya suami yang hanya bekerja menjual parfum di rumah dan tanpa pekerjaan lain yang tentunya membuat Leni sebagai istri memiliki rasa bosan karena meminta uang padanya. Namun, wacana ini tidak digambarkan oleh Dodi.

Teks berita tersebut menggambarkan Dodi seolah-olah sebagai korban. Hal ini dapat dilihat dari kronologis peristiwa yang dikemukakannya. Pernyataan pertama, anak sulungnya meminta uang kepadanya, namun karena tidak memiliki uang, Dodi meminta uang kepada Istirnya. Pernyataan berikutnya, Dodi tidak mendapatkan uang, akan tetapi diomeli oleh istrinya dengan kata-kata yang menurutnya kasar. Kemudian, karena terbawa emosi, Dodi mengambil pisau dapur dan menusuk tubuh istrinya pada empat bagian, yaitu dada, leher, punggung, dan tangan. Berdasarkan pernyataan tersebut, Dodi mempengaruhi pembaca bahwa dia sebenarnya tidak ada niat untuk membunuh istrinya, namun karena terbawa emosi yang dipicu oleh kata-kata kasar istrinya, maka dia tidak bisa mengendalikan emosi dan tanpa sadar membunuh istrrnya.

Dalam berita ini terlihat juga kepedulian masyarakat dan pihak berwenang terhadap nasib korban (Leni). Misalnya saja, Yefri Heriani yang menyatakan bahwa kasus tersebut termasuk bencana sosial yang harus diusut tuntas dan memerlukan respon cepat dari berbagai pihak. Lebih lanjut, Yefri menyatakan bahwa diperlukan jaminan untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan yang disediakan oleh pemerintah, tokoh masyarakat, dan masyarakat bagi perempuan dan anak-anak dari tindakan kekerasan.

Paragraf di atas merupakan suatu bentuk gerakan feminisme yang dilakukan oleh tokoh wanita, Yefri Heriani. Namun, jika ucapan tidak diiringi dengan tindakan hasilnya akan nihil juga. Oleh karena itu , diperlukan tindakan dari setiap ucapan bagi perlindungan wanita dan anak-anak di masa sekarang dan masa datang.

  1. Berita Kedua

Berita yang dimuat pada harian Padang Ekspres Jumat, 17 Mei 2013 yang berjudul Bunuh Istri karena Dicaci Maki diceritakan Afrizal (ujang) (33) seorang suami yang tega membunuh istrinya, Fitri Darmawati (27). Pembunuhan dilakukan dengan cara menancapkan pisau ke perut istrinya. Karena istrinya melawan, Ujang kembali menusukkan pisau ke dada dan wajah istrinya. Peristiwa pembunuhan terjadi pada Senin, 21 Januari 2013 di depan gudang PT Raj Dular Brother, simpang tiga Rambutan, depan Kompleks Perumahan Koronggadang Damai, Kelurahan Balaibaru, Kecamatan Kuranji.

Menurut Ujang, perihal yang melatarbelakangi peristiwa pembunuhan adalah cekcok masalah ekonomi dalam rumah tangganya. Awalnya dia menemui istrinya di Taruko (tempat kerja istrinya) untuk berdamai dan mengajak istrinya pulang ke rumah dengan alasan kasihan kepada anaknya. Namun, harapan tidak sesuai dengan kenyataan, istrinya malah mencaci makinya dan mengatakan bahwa dia tidak mau berdamai dan akan menikah dengan orang lain. Mendengar hal tersebut, Ujang marah dan karena terbawa emosi, dia langsung mengambil pisau dari dalam bajunya yang telah disediakannya dari rumah. Tanpa mengulur waktu Ujang langsung menancapkan pisau ke perut istrinya. Karena istrinya melawan, akhirnya Ujang menusukkan pisau ke dada dan wajah korban.

Dalam berita ini terlihat bahwa posisi perempuan (Firtri) hanya sebagai objek atau seseorang yang diceritakan dan pelaku Ujang sebagai subjek (pencerita). Seluruh peristiwa sebelum dan sampai proses terbunuhnya Fitri diketahui oleh wartawan dari mulut Ujang. Dengan demikian, Ujang bertindak sebagai tokoh pencerita dalam teks berita tersebut. Hal ini didasarkan pada pembaca mengetahui peristiwa terbunuhnya Fitri dari mulut Ujang.

Fitri sebagai korban tidak bisa menampilkan atau menghadirkan dirinya sendiri dalam teks. Hal tersebut dikarenakan Fitri telah meninggal dunia. Akibatnya, posisi Fitri digantikan oleh Ujang. Semua pendapat yang ditulis di dalam berita semuanya berdasarkan sudut pandang Ujang. Hal tersebut mengakibatkan Ujang sebagai aktor utama dan subjek satu-satunya dalam teks berita tersebut.

Sebagai Subjek dalam teks berita, Ujang mendapat posisi yang menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari judul berita Bunuh Istri karena Dicaci Maki. Berdasarkan judulnya sudah tergambar jelas, bahwa Ujang melakukan pembunuhan karena terbawa emosi setelah mendengar caci maki dan perkataan istrinya yang menyatakan akan menikah dengan orang lain. Dalam posisi ini, Fitri sebagai objek penceritaan, secara tidak langsung tergambar sebagai seorang perempuan yang tutur katanya kasar dan tidak menghargai suaminya. Berdasarkan hal tersebut, posisi Fitri semakin tersudutkan, dengan kata lain, dia dibunuh karena tutur katanya sendiri.

Teks berita tersebut menggambarkan Ujang seolah-olah sebagai korban. Hal ini dapat dilihat dari kronologis peristiwa yang dikemukakannya. Pernyataan pertama, dia mendatangi istrinya ke tempat kerjanya dengan tujuan yang baik, yaitu berdamai. Namun tidak ditanggapi dengan baik oleh istrinya, bahkan istrinya mencaci makinya dan menyatakan akan menikah dengan orang lain. Kemudian, karena terbawa emosi, Ujang mengambil pisau yang ada dalam bajunya dan menancapkan pisau ke perut istrinya. karena istrinya melawan, Ujang menusuk kembali istrinya pada bagian dada dan wajah istrinya. Berdasarkan pernyataan tersebut, ujang mempengaruhi pembaca bahwa dia sebenarnya tidak ada niat untuk membunuh istrinya, namun karena terbawa emosi yang dipicu oleh caci maki dari istrinya sehingga dia kehilangan kendali dalam menahan emosinya dan akhirnya membunuh istrrnya.

Hal lain yang menunjukkan teks berita ini memposisikan Ujang sebagai aktor utama atau pencerita, yaitu berdasarkan paparannya bahwa setelah kejadian pembunuhan, dia melarikan diri ke Pesisir Selatan. Namun, karena merasa kasihan kepada orang tuanya dan merasa bersalah, akhirnya Ujang menyerahkan diri ke Mapolsek Kuranji. Berdasarkan hal ini, secara tidak langsung Ujang membangun nilai positif di dalam dirinya, yaitu mengakui kesalahannya karena telah membunuh istrinya dan menyerahkan dirinya ke pihak yang berwajib.

 

  1. Posisi Pembaca dalam Teks Berita

Posisi pembaca di dalam teks pertama dan kedua adalah sebagai laki-laki, hal ini berdasarkan sudut pandang penceritaan. Pertama, pada teks pertama terlihat jelas bahwa pembaca diposisikan sebagai Dodi yang mengikuti alur peristiwa pembunuhan yang diutarakan oleh pelaku (Dodi). Kedua, pada teks kedua juga terlihat jelas bahwa pembaca diposisikan sebagai Ujang dengan mengikuti alur peristiwa terbunuhnya istri ujang. Dengan pemosisian seperti itu, pembaca tidak akan banyak protes, hal ini selaras dengan yang diinginkan oleh penulis. Kemudian, kerja sama penulis dan pembaca ini melestarikan bias genre yang ada di dalam masyarakat.

Berdasarkan pembahasan mengenai posisi aktor dalam teks berita dan posisi pembaca dalam teks berita yang telah dilakukan, dapat dinyatakan dua hal. Pertama, pensubjekan aktor dalam teks berita, pelaku dalam cerita selalu laki-laki dan perempuan selalu menjadi korban, dengan kata lain laki-laki adalah pencerita atau penafsir dalam berita, sedangkan perempuan adalah objek penceritaan atau hal yang ditafsirkan dalam berita. Kedua, posisi pembaca dalam teks berita adalah sebagai laki-laki, hal ini didasarkan pada sudut pandang penceritaan berada di pihak laki-laki atau pelaku dalam berita yang mengetahui kronologis cerita. Hal inilah yang menjadikan bias genre dalam berita karena posisi perempuan pun digantikan oleh laki-laki dalam menceritakan kronologis peristiwa tersebut.

 

  1. Simpulan dan Saran
  2. Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat bias genre dalam teks berita kriminal Padang Ekspres khususnya pada dua berita yang telah dikaji pada bagian pembahasan. Kemudian, pada kajian feminisme dalam prespektif analisis wacana kritis ini dapat disimpulkan dua hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Posisi aktor dalam kedua teks berita kriminal pada harian Padang Ekspres tersebut, diketahui bahwa laki-lakilah yang menjadi subjek penceritaan atau pelaku utama dalam cerita, sedangkan perempuan hanya sebagai objek penceritaan atau korban yang diceritakan.
  2. Posisi pembaca dalam kedua teks berita kriminal pada harian Padang Ekspres tersebut adalah sebagai laki-laki, hal ini dikarenakan pembaca diposisikan sebagai subjek penceritaan dan mengikuti alur peristiwa yang dikemukakan oleh subjek pencerita (Dodi dan Ujang).
  3. Saran

Berdasarkan pembahasan tersebut, penulis menyarankan kepada pembaca berita agar lebih bersikap kritis dalam memahami sebuah berita. Selanjutnya, bagi peneliti selanjutnya, agar senantiasa melestarikan analisis wacana demi kemajuan ilmu penggetahuan khususnya Kajian Wacana. Kemudian, diharapkan kepada mahasiswa agar lebih memahami analisis wacana dari sudut pandang atau pendapat ahli mana pun, tidak hanya pada teori Sara Mills.

 

DAFTAR RUJUKAN

Eriyanto. 2009. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta:LkiS Yogyakarta.

 

Ermanto. 2009. Kajian Wacana Jurnalistik: Mengungkapkan Perjuangan dan Pertarungan Kekuasaan. Padang:Sukabina Press.

 

Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

 

Harian Padang Ekspres. 2013. Diomeli, Suami Bunih Istri. Sabtu 30 Maret.

 

Harian Padang Ekspres. 2013. Bunuh Istri karena Dicaci. Jumat 17 Mei.

 

Moleong, Lexi J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:Remaja Rosdakarya.

 

Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

 

Sugihastuti dan Suharto. 2010. Kritik Sastra Feminis: Teori Dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Makalah Bahasa Indonesia

 

PENYINGKATAN KATA DAN FRASA DALAM BERBAHASA

SEBAGAI MANIFESTASI BAHASA PROKEM DI KALANGAN REMAJA

 

MAKALAH

Oleh

Endang Wahyuningsi

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan karunia terbesar dalam hidup manusia. Hal ini disebabkan karena hanya manusialah yang memiliki dan mampu berbahasa. Manusia sejak lahir telah dilengkapi oleh sebuah alat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Pendapat ini didukung oleh Chomsky (dalam Chaer, 2003:108) yang menyatakan bahwa manusia telah dilengkapi dengan sebuah alat yang disebut Language Acquisition Device (LAD).

Lebih lanjut, Chomsky (dalam Chaer, 2003:108) menyatakan bahwa Language Acquisition Device (LAD) ini berkaitan dengan penerimaan anak terhadap ucapan-ucapan yang didengarnya di lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, lingkungan sangat berperan aktif dalam pemerolehan bahasa baik oleh anak-anak maupun kalangan remaja. Dengan demikian, tidak heran kalau di kota-kota besar, seperti Jakarta, kalangan remaja sering menggunakan bahasa yang disingkat-singkat baik kata maupun frasa. Misalnya, kata ‘ciyus’ berasal dari kata serius; singkatan ‘bohay’ berasal dari kata ‘body aduhai’.

Variasi bahasa yang diciptakan oleh kaum remaja menuntut para orang tua lebih memperhatikan bahasa yang digunakan oleh anak-anaknya. Sebagaimana kita tahu bahwa bahasa remaja selalu berubah atau dinamis. Hal tersebut dikarenakan bahasa memiliki sifat yang dinamis. Dinamis maksudnya, selalu berubah sesuai dengan zaman manusia pengguna bahasa itu hidup. Perbedaan bahasa ini dapat dilihat dari penggunaan kata dan frasa dalam berbahasa.

Penggunaan kata dan frasa dalam berbahasa oleh kaum remaja semakin miris terasa. Hal tersebut dikarenakan banyaknya penyingkatan kata dan frasa yang digunakan oleh kaum remaja yang membawa dampak tersendiri bagi perkembangan bahasa Indonesia. Penyingkatan kata dan frasa yang sembrautan ini merupakan efek dari manifestasi bahasa prokem.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini diajukan dalam bentuk pertanyaan, yaitu sebagai berikut.

  1. Apa itu bahasa Prokem?
  2. Bagaimanakah proses pembentukan bahasa prokem?
  3. Bagaimanakah bentuk analisis bahasa prokem?
  4. Apa upaya meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem?

 C.    Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini memiliki empat tujuan, yaitu sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan tentang bahasa prokem.
  2. Mendeskripsikan tentang proses pmbentukan bahasa prokem.
  3. Mendeskripsikan bentuk analisis bahasa prokem.
  4. Mendeskripsikan upaya meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem.

D.    Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan bermanfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis, makalah ini didasarkan pada pemaparan tentang bahasa prokem dan makalah ini juga diharapkan dapat memperkaya khasanah pengetahuan tentang penyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa. Selanjutnya, secara praktis, makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap para remaja supaya lebih jeli dalam memilih kata dan frasa yang akan digunakan dalam berbahasa. Di samping itu, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi pembaca dan penulis selanjutnya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Makalah ini akan membahas tentang (1) bahasa prokem, (2) proses pembentukan bahasa prokem, (3) analisis bahasa prokem, (4) upaya meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem. Penjelasan masing-masing sebagai berikut.

A.    Bahasa Prokem

Sumarsono (2008:153) menjelaskan bahwa bahasa prokem merupakan salah satu jenis tutur yang khas dan muncul di Jakarta. Pencipta asli dari bahasa prokem adalah kaum pelancong, pencopet, bandit, dan sebangsanya. Di Jakarta mereka ini disebut kaum preman. Kata prokem itu sendiri berasal dari kata preman dengan rumus berikut.

  1. Setiap kata diambil 3 fonem (gugus konsanan dianggap satu) pertama: preman  menjadi prem.
  2. Bentuk itu disisipi –ok-, di belakang fonem (atau gugus fonem) yang pertama, yang menjadi prokem atau prokem.

Selanjutnya, bahasa prokem adalah bahasa yang digunakan untuk mencari dan menunjukkan identitas diri; bahasa yang dapat merahasiakan pembicaraan mereka dari kelompok yang lain. Ada pula yang menyatakan bahasa prokem itu adalah bahasa yang diolah kembali agar pembicaraaan mereka ini tidak dipahami orang tua ataupun guru-guru yang sering melarang mereka sebelum sempat melakukan sesuatu (Sallyanti, 2003:1).

Menurut Wikipedia, bahasa prokem atau bahasa gaul adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Dalam perkembangannya sekarang, bahasa prokem atau bahasa gaul tersebut terus bertambah banyak dengan berbagai variasinya. Kata-kata tersebut bisa dari kata-kata daerah yang dipelesetkan maknanya, kata-kata yang dibunyikan tidak sempurna (“dicadelkan”), singkatan-singkatan ataupun dengan mengubah susunan huruf (vokal dan konsonan) sehingga terdengar bunyi baru yang unik dan lucu (http://arsyad-rivadi.blogspot.com)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa prokem merupakan sejenis ragam bahasa yang khas yang awalnya berkembang di Jakarta yang digunakan oleh pelancong, bandit, dan sebangsanya. Bahasa prokem itu sendiri berasal dari kata preman. Selanjutnya, seiring waktu istilah bahasa prokem berubah menjadi bahasa gaul.

Bahasa prokem atau bahasa gaul pada saat ini tidak hanya digunakan oleh para pelancong di kota besar, seperti Jakarta, namun juga di kota-kota kecil, seperti di kota Padang. Hal ini dapat kita lihat bahwa remaja bahkan anak-anak, dan orang tua pun menggunakan bahasa gaul dalam kegiatan berbahasa. Hal tersebut dapat diketahui dari fakta di lapangan. Makin maraknya penggunaan bahasa gaul tersebut tidak terlepas dari perkembangan media komunikasi, seperti televisi, radio, dan jejaring sosial.

B.  Proses Pembentukan Bahasa Prokem

Menurut Sumarsono (2003:154-160) proses pembentukan bahasa prokem adalah sebagai berikut.

Pertama, setiap kata diambil 3 fonem (gugus konsanan dianggap satu) pertama: bapak menjadi bap, kemudian bentuk ini disisipi –ok-, dibelakang fonem (atau gugus fonem) yang pertama, menjadi b-ok-ap atau bokap. Kedua, menghilangkan vokal terakhir saja, kemudian disisipi –ok– dibelakang tiga fonem pertama. Misalnya, kata begitu menjadi begokit. Penghilangan satu bunyi ini dalam pelajaran bahasa Indonesia disebut dengan apokop. Ketiga, metatesis pada tingkat suku kata, contohnya besok menjadi sobek, piring menjadi riping. Keempat, kosa kata khusus yang rumusannya tidak ada, contoh amsyong (celaka, hancur), asycy (asik, nikmat, menyenangkan). Kelima, melalui singkatan dan akronim. Makalah ini lebih lanjut akan membahas bahasa prokem atau bahasa gaul ditinjau dari proses peyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa.

Menurut Kridalaksana (1996:162), singkatan merupakan salah satu hasil proses pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf, seperti:

UNP (Universitas Negeri Padang),

DKI (Daerah Khusus Ibukota), dan

KKN (Kuliah Kerja Nyata);

Maupun yang tidak dieja huruf demi huruf, seperti:

dll (dan lain-lain),

dng (dengan),

dst (dan seterusnya).

Adapun jenis-jensi singkatan, yaitu sebagai berikut.

  1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan nada titik, misalnya: Prof. Dr. Agustina, M.Hum.
  2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).
  3. Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Akan tetapi, singkatan umum yang terdiri hanya dari dua huruf diberi tanda titik setelah masing-masing huruf. Misalnya, s.d. (sampai dengan).
  4. Lambang kimia, singkatan satuan ukur, takaran, timbangan, dan mata uang asing tidak diikuti tanda titik, misalnya: kg (kilogram).

Proses-proses penyingkatan kata dan frasa menurut (Kridalaksana, 1996:165-169), yaitu sebagai berikut.

  1. Pengekalan huruf pertama tiap komponen, misalnya:

A= agama

B= barat, bin, binti

F= Fiat, Fokker

G= gunung, gusti

H= haji, hijrah

AA= Asia Afrika, Ayah Angkat

GWR= Gerakan Wisata Remaja

PAPFIAS= Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat

Dll= dan lain-lain.

  1. Pengekalan huruf pertama dengan pelesapan konjungsi, preposisi, reduplikasi dan preposisi, artikulasi, dan kata, misalnya:

BASUKI= Badan Asuhan Sekolah dan Usaha Kebudayaan Indonesia

BDB= Bebas dari Bea

BHTI= Biro Hak Cipta di Indonesia

DGI= Dewan Gereja-Gereja di Indonesia

MAWI= Majelis Agung para Wali Gereja Indonesia.

Catatan: unsur yang dimiringkan dilesapkan.

  1. Pengekalan huruf pertama dengan bilangan, bila berulang, misalnya:

D3= Dinas Dermawan Darah

4K= Kecerdasan, Kerajinan, Kesetiaan, dan Kesehatan

BBN-A3= Bea Balik Nama Alat Angkutan Air

P3AB= Proyek Percepatan Pengadaan Air Bersih

  1.  Pengekalan huruf pertama dari kata, misalnya:

Aj= ajudan

As= asisten

Ay= ayat

Ka= karet, Kalimantan

  1. Pengekalan 3 huruf pertama dari sebuah kata, misalnya:

Acc= accord

Ant= antara

Obl= obligasi

Okt= Oktober

  1. Pengekalan 4 huruf  pertama dari suatu kata, misalnya:

Purn= purnawirawan

Sekr= sekretaris

Sept= September

  1. Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir kata, misalnya:

BA= bintara

DI= divisi

Fa= Firma

Ir= Insinyur

  1. Pengekalan huruf pertama dan huruf ketiga, misalnya:

Bb= bijblad

Gn= gunung

  1. Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari suku kata pertama dan huruf pertama dari suku kata kedua, misalnya:

Kpt= kapten

Ltn= letnan

Kel= keluarga

Lab= laboratorium

  1. Pengekalan huruf pertama kata pertama dan huruf pertama kata kedua dari gabungan kata, misalnya:

a.d.= antedium

VW= Volkswagen

  1. Pengekalan huruf pertama dan diftong terakhir dari kata, misalnya sei= sungai.
  2. Pengekalan dua huruf pertama dari kata pertama dan huruf pertama kata kedua dalam suatu gabungan kata, misalnya: Swt= swatantra
  3. Pengekalan huruf pertama suku kata pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kata kedua dari suatu kata, misalnya:

Bdg= bandung

dgn= dengan

  1. Pengekalan huruf pertama dari tiap suku kata, misalnya:

hlm= halaman

ttg= tertanggal

  1. Pengekalan huruf pertama dan huruf keempat dari suatu kata, misalnya DO= depot.
  2. Pengekalan huruf yang tidak beraturan, misalnya:

Ops= operasi

KMD= komandan

Hat= kejahatan

Daft= didaftarkan.

C.  Analisis Bahasa Prokem

Analisis bahasa prokem yang digunakan oleh remaja pada makalah ini berdasarkan pantauan dan realita yang ditemukan oleh penulis dalam kehidupan sehari-hari. Berikut uraian lebih lanjut mengenai bahasa prokem atau bahasa gaul yang digunakan oleh kalangan remaja yang berhasil penulis kumpulkan.

  1. Analisis Berdasarkan Bentuk Dasar Kata

Analisis berdasarkan bentuk dasar kata dapat kita lihat pada contoh-contoh berikut ini.

 

Gw benci banget ama loe!

Ciyus?

Contoh di atas merupakan salah satu penyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa. Gw berasal dari gue yang merupakan bahasa betawi, sedangkan benci merupakan singkatan dari frasa benar-benar cinta dan ama berasal dari kata sama, loe berasal dari bahasa betawi, serta ciyus berasal dari kata serius. Di sebuah kos-kosan, seorang mahasiswi mengucapkan kata dan frasa yang disingkat, namun dipahami oleh anggota atau genknya, misalnya kata kuak dan kusal. Kuak yang merupakan penyingkatan dari kata kurang akal, sedangkan kusal merupakan penyingkatan dari kata kurang salai. Singkatan lain misalnya, ababil (ABG labil), brownies (brondong manis), barbuk (barang bukti), CDMA (capek dech malas ah), 3G (gagah, ganteng, gaul), jadul (jaman dulu), dan lain seagainya.

 

  1. Analisi Berdasarkan Media Komunikasi

Penyingkatan kata dan frasa tidak hanya dilakukan dalam berkomunikasi langsung, namun juga dalam komunikasi tidak langung. Misalnya, melalui handphone, seseorang bisa mengirimkan pesan kepada sahabatnya dengan menggunakan singkatan kata dan frasa, seperti mat mlm, cpt, GPL. Kata mat berasal dari kata selamat, sedangkan kata mlm berasal dari kata malam, cpt berasal dari kata cepat, dan singkatan GPL berasal dari frasa nggak pake lama. Singkatan lain yang digunakan dalam pesan yang dikirim melalui handphone, misalnya macama (sama-sama), prg (pergi), tw (tau), udh (sudah), mkn (makan), ge pain (lagi ngapain), mikum (assalamu’alaikum), boong (bohong), dan lain sebagainya. Dengan demikian, hampir semua kata yang digunakan dalam pesan yang dikirim melalui media handphone menggunakan penyingkatan.

  1. Analisis Berdasarkan Asal Kata

Penyingkatan kata dan frasa tidak hanya dari bahasa Indonesia, tetapi juga berasal dari bahasa lain (bahasa Inggris). Misalnya, OMG (Oh, My God), BTW (By The Way), TMA (Take My Advice). Kata oh, my god berarti oh tuhan, sedangkan kata by the way memiliki arti ngomong-ngomong dan kata take my advice memiliki arti ambil nasihat saya. Singkatan kata atau frasa lain yang berasal dari bahasa Inggris, misalnya TBYB (Try Before You Buy) yang berarti coba sebelum membeli, ASAP (As Soon As Possible) yang berarti sesegera mungkin, TIA (Thanks In Advance) yang berarti terima kasih sebelumnya, TFIT (Thanks For The Thought) yang berarti terima kasih pendapatnya, TYVM (Thanks You Very Much) yang berarti terima kasih banyak.

Penyingkatan kata dan frasa tidak hanya berasal dari bahasa Indonesia atau bahasa asing (bahasa Inggris) saja, tetapi juga berasal dari gabungan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Misalnya, sorulaz, sortel, dan bohay. Kata sorulaz merupakan gabungan dari kata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang membentuk frasa baru, yaitu sorry baru balas, sedangkan kata sortel merupakan gabungan kata bahasa Ingris dan bahasa Indonesia yang membentuk frasa baru, yaitu sorry telat, dan kata bohay merupakan gabungan dari kata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yaitu body aduhay. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyingkatan kata dan frasa tidak hanya berasal dari bahasa Indonesia atau bahasa asing (Inggris) saja, akan tetapi juga merupakan gabungan dari kedua kata atau frasa dari bahasa tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan ada tiga dasar penganalisisan bahasa prokem atau bahasa gaul. Pertama, analisis berdasarkan bentuk dasar kata. Kedua, analisi berdasarkan media komunikasi. Ketiga, analisis berdasarkan asal kata. Ketiga penganalisisan ini dikaitkan dengan cara penyingkatan yang telah diutarakan oleh Kridalaksana. Misalnya, (1) 3G (Gagah Ganteng, Gaul) merupakan salah satu contoh proses penyingkatan kata yang ke 3, yaitu pengekalan huruf pertama dengan bilangan, bila berulang; (2) ASAP (As Soon As Possible) merupakan salah satu contoh proses penyingkatan kata yang ke-1, yaitu pengekalan huruf pertama tiap komponen. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa penyingkatan kata dan frasa dalam bahasa prokem masih mengikuti proses yang telah dikemukan oleh ahli bahasa tersebut.

D.  Upaya Meminimalisasikan Penggunaan Bahasa Prokem

Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem adalah dengan meningkatkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia. Upaya-upaya tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para penerus bangsa, bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus diutamakan penggunaannya. Dengan demikian, mereka lebih mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar daripada bahasa prokem atau bahasa gaul.
  2. Menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan penggunaan bahasa Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui, bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu yang dapat kita gunakan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan menanamkan semangat persatuan dan kesatuan, masyarakat Indonesia akan lebih mengutamakan bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa prokem atau bahasa gaul.
  3. Meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi. Para siswa dapat diberikan tugas praktik berbahasa Indonesia dalam bentuk dialog dan monolog pada kegiatan bermain drama, diskusi kelompok, penulisan artikel dan makalah dan juga dalam bentuk penulisan sastra seperti cerpen dan puisi.


BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan empat hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Bahasa prokem merupakan sejenis ragam bahasa yang khas yang awalnya berkembang di Jakarta yang digunakan oleh pelancong, bandit, dan sebangsanya. Bahasa prokem itu sendiri berasal dari kata preman. Selanjutnya, seiring waktu istilah bahasa prokem berubah menjadi bahasa gaul.
  2. Menurut Sumarsono (2003:154-160) proses pembentukan bahasa prokem ada lima, yaitu (1) setiap kata diambil 3 fonem (gugus konsanan dianggap satu) pertama, kemudian bentuk ini disisipi –ok-, dibelakang fonem (atau gugus fonem) yang pertama; (2) menghilangkan vokal terakhir saja, kemudian disisipi –ok– dibelakang tiga fonem pertama; (3) metatesis pada tingkat suku kata; (4) kosa kata khusus yang rumusannya tidak ada; (5) melalui singkatan dan akronim.
  3. Analisis bahasa prokem didasarkan pada tiga hal, (1) bentuk kata dasar; (2) media komunikas; (3) asal kata. Kemudian, dikaitkan dengan proses pembentukan singkatan yang telah diutarakan oleh Kridalaksana, maka dapat disimpulkan bahwa penyingkatan dalam bahasa prokem masih mengikuti prosedur penulisan singatan yang ada.
  4. Upaya untuk meminimalisasikan penggunaan bahasa prokem adalah (1) menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para penerus bangsa, bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus diutamakan penggunaannya; (2) menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia; (3) meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi.

 

B.Saran

Dari uraian yang telah dipaparkan, kita mengetahui penyingkatan kata dan frasa dalam berbahasa merupakan menifestasi bahasa prokem di kalangan remaja. Penting bagi kita untuk mengetahui bahasa prokem dan efek yang ditimbulkan dari bahasa prokem terhadap keberlangsungan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya pembaca atau generasi bangsa senantiasa menggunakan bahasa Indonesia, walau tidak dipungkiri diperbolehkan menggunakan bahasa prokem. Namun, menurut hemat penulis, sebaiknya penggunaan bahasa prokem atau bahasa gaul hendaknya diminimalisasikan.


DAFTAR RUJUKAN

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta:Rineka Cipta.

http://assyad-riyadi.blogspot.com/2012/10/bahasa-indonesia-vs-bahasa-prokem. diunduh 10 April 2013.

Kridalaksana, Harimurti. 1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta:Gramedia.

 

Salliyanti. 2003. “Bahasa Prokem di Kalangan Remaja” (Jurnal). Universitas Sumatera Utara:Fakultas sastra.

Sumarsono. 2003. Sosiolinguistik. Yogyakarta:Sabda.